• 6

    Dec

    PAS Konsistensi Pergerakan Band Indie

    KONON, KALAU bicara band indie yang sukses menembus pasar major dengan sukses, nama PAS BAND adalah nama teratas yang harus disebut. PAS Band mulai meniti karir dari panggung-panggung underground sejak 1989. Awalnya, band yang lahir di kampus Unpad yang diperkuat oleh Bambang (gitar), Trisno (bas), Richard Mutter (dram), dan Yuki (vokal) ini kebanyakan mengusung musik-musik beraliran keras macam hardcore. GRUP yang mencampurkan warna musik rock, hip hop dan punk ini, Pas Band berdiri secara resmi pada tahun 1990. Pada tahun tersebut grup yang terdiri dari Beng Beng (gitar), Trisno (Bass), Yukie (vokal) dan Richard Muttler (drum) ini merilis album EP berbendera indie label dengan debut, /Four Through The Sap./ Sukses album indie tersebut, Pas Band kemudian masuk mayor label Aquarius. Hasi
  • 6

    Dec

    Musik Indie, Diam-Diam Jadi Pendobrak Kemapanan

    Dalam industri musik, indie label bukan cerita baru. Setidaknya bagi Amerika. Kita bisa menelusurinya ke paro pertama 1920-an saat industri rekaman didominasi Columbia, Edison, Victor, atau ARC. Kala itu, perusahaan-perusahaan kecil muncul menyeimbangkan keadaan. Paramount, Okeh, Vocalion dan Black Patti, adalah beberapa di antaranya. Sekalipun begitu, perlawanan indie label tak urung membuat banyak raksasa terluka, bahkan sebagian di antaranya tak sanggup lagi bertarung. Edison, misalnya, meninggalkan gelanggang dan berkonsentrasi pada radio. Belum lagi Columbia yang diambil CBS, atau Victor yang dikuasai raksasa baru RCA. Untuk dua dasawarsa ke depan, terjadi transfer situasi yang menyisakan peluang bagi siapa pun untuk bermain. Baru pada paro kedua tahun 1940-an, peluang itu kembali
  • 6

    Dec

    Indie Vs Major

    Perkembangan musik di Indonesia di abad 20 ini, bagaikan jamur dimusim hujan (masih pepatah lama). Kadang bersamaan muncul, kadang bersamaan tenggelam. Mungkin karena hobi pendengarnya, hanya ingin bosan dengar musik. So. Kalau ada lagu baru maunya dengar terus tiap hari hingga bosan, lalu ditinggalkan. Wets, habis manis sepah dibuang donk. Jadi pertanyaanya, seberapa besar kita mencintai musik? Seberapa besar kita menghargai karya orang lain? Tanyakan pada diri anda? Kembali ketopik kita Major Label vs Indie Label. Sebenarnya, keduanya tidak boleh dipertentangkan. Karena itu, tulisan ini hanya ingin mendamaikan. Sebenarnya Band Major dan Indie memiliki kesamaan tujuan bermusik untuk diri sendiri. Walaupun nantinya, banyak kepentingan yang masuk. Mulai dari kepentingan lingkungan band, R
  • 25

    Nov

    Lagu Vagetoz Mengalun di 5 Juta Ponsel

    Jakarta Ring back tone (RBT) milik band Vagetoz terjual lebih dari 5 juta kopi. Tapi itu bukan alasan band asal Sukabumi tersebut untuk go international. “Go international masih jauh, kita nasional aja dulu. Nasional aja semuanya belum kita rambah,” ujar Teguh, sang vokalis band, saat ditemui bersama personel Vagetoz lainnya di Hard Rock Cafe, Plaza EX, Jl MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2008). Teguh mengaku kalau kapasitas bandnya masih belum bisa disejajarkan dengan sejumlah musisi Indonesia yang lebih senior. Nada sambung yang terjual sebanyak itu juga bukan jaminan Vagetoz dikenal luas masyarakat. Walau begitu Teguh dan rekan-rekannya mengaku bersyukur dengan hasil yang mereka capai. “Masing-masing sudah bisa beli rumah, kita juga ingin beli alat-alat sendi
  • 25

    Nov

    D'Massive Bangga Lagunya Banyak dihapal Orang

    Tak disangka sebelumnya oleh D ‘Masssive, ternyata sebagai band baru, banyak juga fans mereka yang hapal hits mereka ‘Cinta Ini Membunuhku’. Seperti yang dirasakan Rabu (2/4) sore, saat grup band yang diawaki Rian (vokal), Kiki (gitar), Rama (gitar), Why (drum), dan Rai (bass), bermain di sebuah mall, di daerah Senen, Jakarta Pusat untuk syuting sebuah FTV. “Kita enggak menyangka, kalau sambutan fans kita luar biasa. Banyak yang hapal lagu kita, “kata sang vokal Rian. Seperti diketahui, dalam acara panggung di beberapa daerah belakangan ini, D’Massive pernah sepanggung dengan band besar, seperti Peterpan, Nidji, dan Andra & The Backbone. “Kita pernah merasa kehadiran kita tidak diperhitungkan dibandingkan band besar lainnya. Tapi, di luar
  • 25

    Nov

    Fenomena Kangen Band

    Band bernama Kangen Band ini dibenci sekaligus di sukai dan dikagumi oleh banyak orang. Disukai entah karena apa? Saya juga tidak mengerti. Sementara Kangen Band juga dibenci, dibenci karena apa? Saya juga ga tau. Mungkin karena katanya Kangen Band merusak pasaran band band lain yang jauh lebih berkualitas tapi tidak laku alias kalah laku dan kalah top dengan Kangen Band. Atau mungkin juga karena Kangen Band sebagai band anak bawang sama sekali tidak menunjukkan kualitas sebagai band masa depan. Bagi saya pribadi, sejelek atau sehancur apapun tampang personelnya dan musik Kangen Band (yang memang musiknya benar benar sucks itu!). Ada pihak pihak yang jauh lebih salah daripada Kangen Band yang konon menghancurkan selera dan pasaran musik Indonesia itu. Siapakah mereka yang jauh lebih sala
  • 14

    Nov

    Leeming Warning

    BUAT SEMUA TEMAN-TEMAN… LEEMING MASIH TETAP ADA… LEEMING TIDAK PERNAH MENGENAL KATA MENYERAH LEEMING MENGHILANG SEJENAK BUKAN KARENA MUNDUR DARI KETATNYA PERSAINGAN TAPI LEEMING COBA INTROPEKSI MEMBUAT SESUATU UNTUK LEBIH BAIK KEDEPANNYA.. MUNGKIN DIANTARA KALIAN ADA YANG BERTANYA MENGAPA DISAAT KOTA SUKABUMI TERCINTA MULAI DILIRIK OLEH PERUSAHAAN2X BESAR MUSIK INDONESIA, DAN BERMUNCULANNYA ARTIST2X BARU DARI KOTA SUKABUMI, TAPI LEEMING SENDIRI HARUS MENGHILANG DAN HIJRAH KE SEBUAH KOTA YANG MENJADI BAROMETER MUSIK DI INDONESIA. MEMANG TERKESAN IRONIS… KENAPA BISA BEGITU..?? YA.. KARENA LEEMING BERMUSIK DARI MULAI SEBAGAI HOBBY, MEMBUAT PRESTASI DAN MENJADIKANNYA SEBAGAI PROFESI… LEEMING INGIN MENGALAMI SEBUAH KESUKSESAN YANG NYATA, DIMANA IMPIAN TIDAK SEKEDAR TIDU
  • 14

    Nov

    Strategy Major Label Membunuh Artist Musik Di Indonesia

    Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman. Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label). Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membu
  • 14

    Nov

    Menunggu Kehancuran Industri Musik..???

    Di awali oleh The Beatles, perkembangan industri musik makin bergairah karena telah terjadi perombakan besar-besaran dalam sistemnya. Era sebelumnya, untuk membuat sebuah lagu saja diperlukan pencipta, penyanyi, komposer, pengiring musik dan tetek bengek lainnya, sehingga hasil penjualannya harus dibagi-bagi hampir katakan 100 orang. Sedangkan keberhasilan penjualan lagu The beatles hanya di bagi ke anggota The Beatles (4 orang) dan produser! Keuntungan besar di perolah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu produser mulai melirik band band yang aktif mencipta lagu sendiri. Hingga sekarang tak terbilang banyaknya anak-anak muda berusaha membuat band dan mencipta lagu sendiri dengan harapan kaya mendadak. Mereka masih bermimpi industri musik sebagai lahan pekerjaan yang menjanjikan. Mereka l
Prev -

Author

Follow Me

Search

Recent Post